|
Pada tahun 2025, penambahan aset tetap termasuk aset tetap ACE dan APS yang masing-masing diakuisisi pada April dan Agustus 2025. Biaya perolehan, termasuk penyesuaian nilai wajar, didasarkan pada pelaksanaan Alokasi Harga Beli ().
Penambahan pada tahun yang berakhir
30 Juni 2026 dan 31 Desember 2025 sebagian besar berupa penambahan tanah, kapal dan aset dalam pembangunan yang ditujukan untuk proyek CAA, ACE, AMS1, AMSB dan CAP2 yang masih dalam tahap pembangunan awal serta penambahan aset tetap lainnya untuk menunjang kegiatan operasional Grup.
Aset tetap dalam pembangunan pada tanggal 30 Juni 2026 dan 31 Desember 2025 terdiri dari:
Proyek Petrokimia dan Kilang
Proyek petrokimia dan kilang merujuk pada sebagian entitas Grup CAP. Selama tahun 2026 dan 2025, seluruh asset Grup dalam pembangunan masih dalam tahap pengembangan. Estimasi penyelesaian proyek ini diperkirakan akan selesai pada tahun 2026 2030
Proyek STAR Energy
Proyek STAR Energy merujuk pada sebagian entitas Grup BREN. Selama tahun 2026 dan 2025, seluruh asset Grup dalam pembangunan masih dalam tahap pengembangan. Estimasi penyelesaian proyek ini diperkirakan akan selesai pada tahun 2026 2027.
Grup memiliki beberapa bidang tanah yang berlokasi di Serang dan Cilegon dengan hak legal berupa Hak Guna Bangunan (). HGB tersebut berlaku antara 8 40 tahun yang jatuh tempo antara tahun 2031 sampai dengan tahun 2057 dengan luas sebesar 371 hektar. ACE memiliki beberapa bidang tanah di Singapura yang terdiri dari 11 bidang dengan hak Estate in Fee Simple dan 1 bidang dengan hak Estate in Perpetuity, dengan total luas 606.657 m2 (atau setara dengan 61 hektar). Kepemilikan tanah tersebut diklasifikasikan sebagai freehold dan memberikan hak kepemilikan tanpa batas waktu kepada ACE. Tanah-tanah tersebut digunakan untuk kegiatan operasional Grup.
Manajemen Grup berkeyakinan bahwa tidak ada kesulitan dalam perpanjangan hak atas tanah tersebut karena semua tanah telah dimiliki secara legal dan didukung sepenuhnya oleh bukti kepemilikan yang sah.
Beban penyusutan dicatat pada beban penyusutan dan amortisasi.
Manajemen berpendapat bahwa pada tanggal 30 Juni 2026 dan 31 Desember 2025 tidak terdapat indikasi terjadinya penurunan nilai aset tetap.
Aset tetap kecuali tanah dan aset tertentu telah diasuransikan kepada pihak ketiga yaitu PT Asuransi Astra Buana, PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk, PT Asuransi Central Asia, PT Asuransi Sinar Mas, PT Asuransi MSIG Indonesia, PT Marsh Indonesia dan Marsh Singapore Pte. Ltd., PT Malacca Trust Wuwungan Insurance Tbk, India International Insurance Pte. Ltd., LCH Insurance Brokers Pte. Ltd., PT Asuransi Harta Aman Pratama, PT Asuransi Chubb Syariah Indonesia, PT Asuransi Umum Mega, PT Chubb General Insurance Indonesia, PT Avrist General Insurance, PT Asuransi FPG Indonesia, dan Asuransi Raksa Praktikara terhadap risiko kebakaran, bencana alam, pencurian dan risiko lainnya.
Manajemen berpendapat bahwa nilai pertanggungan tersebut cukup untuk menutupi kemungkinan kerugian atas risiko kebakaran, bencana alam dan risiko lainnya yang mungkin atas aset yang dipertanggungkan termasuk gangguan usaha.
Sebagian aset tetap milik CAP dan GI digunakan sebagai jaminan secara pari passu atas utang bank jangka panjang (Catatan 19b), utang lembaga keuangan non-bank dan utang obligasi dalam mata uang Rupiah (Catatan 20).
Tidak terdapat aset tetap yang tidak dipakai sementara, diperoleh dari hibah, dihentikan dari penggunaan aktif dan diklasifikasikan sebagai aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual.
Terkait dengan aset tetap atas akuisisi ACE dan APS (Catatan 36), manajemen juga menyusun model arus kas yang didiskonto () untuk mendukung peningkatan nilai wajar, dengan mempertimbangkan kemampuan pelaku pasar dalam menghasilkan manfaat melalui penggunaan aset. KJPP Kusnanto Rekan telah mereviu model DCF tersebut. Asumsi-asumsi utama yang digunakan dalam perhitungan DCF meliputi tingkat utilisasi, pertumbuhan dan diskonto. Grup meyakini bahwa setiap kemungkinan terjadinya perubahan yang wajar atas asumsi-asumsi utama tersebut tidak akan mengakibatkan penurunan nilai atas nilai wajar aset bersih yang diperoleh. |